Feeds:
Pos
Komentar

picture0029Awalnya blog ini muncul dari kegelisahanku yang suka merasa bingung. Dimana letakku sebenarnya. Jadi Ibu bekerja, pusing mikir yang di rumah.. Jadi Ibu rumah tangga, kok kurang becus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga, malah, sepertinya tangkai sapu dan pel tidak ‘sejiwa’ dengan aku.

Lalu akhirnya tempat ini kujadikan album hidup, yang kelak akan kuwariskan pada anak-anakku, agar mereka tahu seperti apa ibunya kala itu. Karena semua yang ‘buruk’, celele’an, kelewatan disimpannya dalam segumpal WP, jauh berbeda dengan Ibunda apalagi Bapanda yang selalu serius di depan mereka.

Akhirnya walau terlambat, Salam dari Sadie untuk para pengunjung blog yang sudi membaca lembaran-lembaran cerita, kegelisahan, senang sedihnya aku.. Yang bingung, di mana letakku yang pas sebenarnya. Seolah terperangkap dalam ruang yang tidak fit sama aku.

Selamat datang, selamat menikmati bacaan yang gak penting dehhh. Tapi yang dulu pernah mengenalku, That’s the truly Sadie.. Yang sebenar-benarnya.. Bila singgah, silakan mengisi lembar koment yang  ada biar aku tahu ‘para dikau’ sudah meninggalkan jejak di sini.

So, This Is Sadie ( Still ) From Home…

WishList before 40

Wishlistku ini kubuat sewaktu aku sering sakit sakitan tiduran terbengong di rumah sakit. Rasanya waktu muda aku tidak selemah ini….

Akhirnya keluarlah wishlistku ini… Yang sebagian terbantai langsung oleh Mas T, suamiku.. *hahahaha….

  • nonton konser kitaro
  • ikutan lomba lari 5 km
  • berenang 1km
  • naik gunung di luar negeri
  • ke nepal / padang kalapathar
  • wisata rohani ngga mau sudah tua
  • liburan sama anak anak ke LN
  • punya lemari buku, syukur syukur ruang baca / perpus pribadi
  • tiap bulan beli dan baca buku baru, baik itu fiksi atau non fiksi.
  • pergi berdua T berhari hari tanpa anak anak… *sadisssss yaaaa…*

Karena hamilku ini banyakan bed restnya… *cari cari alasan…* BB ku meningkat jadi 72 kg. Dan… pasca melahirkan, bbku tetap 72 kg. Dahsyat ngga tuh. Padahal, bayi sudah keluar, ari ari sudah keluar + pastilah darah banyak yg keluar.

Sesampai di rumah, mulailah membuat menu makanku yang ramah dengan pemberian asi ekslusif.

pagi : susu 1 gelas / ultra, nasi 3 sendok makan, sayur katuk 1 mangkuk besar ( besarrrrr ya….) tempe tahu bacem tanpa minyak 2-3 potong.

jam 10: buah pepaya 1 potong / 100 gr dan jeruk 1 buah. kalau masih lapar, ada sayu katuk…

jam 12 : nasi 3 sendok makan, sayur katuk 1 mangkuk besar ( besarrrrr ya….) tempe tahu bacem tanpa minyak 2-3 potong, ayam ungkep 1 potong.

jam 4 sore : nasi 3 sendok makan, sayur katuk 1 mangkuk besar ( besarrrrr ya….) semangkuk kecil kacang sangrai (kalau saya kacangnya kacang sihobuk dari sumatera utara)

jam 6 sore susu ultra 1 gelas

malam ; kalau masih lapar, minum susu lagi atau jus sayur katuk. Setelah 1 bulan kalau malam roti bakar coklat hangat aku konsumsi.

Variasi sayur : sayur katuk, sayur bayam + oyong, sayur sawi + tomat + wortel. sayur bening

Setelah 2 bulan, bbku turun menjadi 60 kg. Amin… Masih 5-8 kg lagi dari berat badan yang kumau…..

 

2 bulan Pertama

Sepulang dari RS Cikini, seolah benar benar ‘new mom’, rasa takut terus datang.. Sampai dengan 1 minggu pasca operasi aku tetap disuntik lovenox untuk terus mengencerkan darahku. Bayi digendonganku ini jauuuuuh dari cantik. Berbeda dengan kedua kakaknya waku dilahirkan jadi bayi paling indah di ruang bayi, si baby Moeshe ini, kulitnya gelap, keriput, meringkel seperti baby tikus. Waktu lahir beratnya pas 3 kg. Saat pulang dari RS beratnya hanya sekitar 2.6 kg.. lost almost 400 gr …

2 minggu pertama berat Moeshe hanya naik 300gr. Asiku memag sedikit, mungkin faktor usia. kalau dulu jaman si kakak, sambil bekerja, menyusui aku bisa simpan 1300ml, sekarang ini di usia hampir 38, boro boro…Sampai disarankan untuk memberikan sufor. Whoa!! 2 baby pertamaku asi ekslusif, kenapa juga yang ini… Biasanya T keukeuh dengan pemberian asi. Kali ini T melonggar, karena melihat baby Moe masih kecil dan keriput. Entah kenapa, kok aku, si mamih yang (tumben) keukeuh mau ngasih asiii.. Rasanya kok bodooooh banget, cuma menyusui saja kok gagal, padahal sebelumnya berhasil.

Aku membuat komitmen kecil pada diriku, tidak akan meninggalkan Moeshe 40 hari pertamanya, dan selalu siap menyusui Moeshe kapan saja. Karena baby Moe maunya tidur melulu, weker kupasang per 2-3 jam untuk mengingatkanku membangunkan dan menyusui baby Moe.

Cape ? iyalah. But when you thinking this is for the baby, you can get through this weakness…

Belum lagi makanan buat ibu menyusui yang ‘jibang’ banget. dalam 1 hari, saya menghabiskan 3 l sayur bayam atau 3 l sayur katuk ( saya dimasakkan dengan panci 4l, jadi saya yakin volumenya kira kira 3l). Kalau sampai malam belum habis itu sayur… Saya blender lalu minum sambil berdoa… asi lancar..asi lancar..

Moeshe 2 bulan / 8 minggu berat badannya naik menjadi 4600 gr.  Amin…Kulitnya menjadi cerah, lipatan lipatan kulit bayi mulai berbentuk..

 

Lega sangat..

 

 

 

 

 

janji baru

ahay….

3 tahun sudah lamanku ini tak kukunjungi… 

mau bikin janji baru ah… 

memulai tulisan tulisan lagi dengan merunut kejadian 3 tahun terakhir. 

minimal 3 tulisan per bulan…

# selagi hangat hangat tahi ayam..#

 

New Born

Beberapa orang menganggap Tuhan hanyalah sebuah ‘kisah’ . Tapi bagiku Tuhan adalah ‘kasih’ dan Ia sungguh kasihan padaku– pada kami–yang sungguh biasa. Biasa berdosa, lalu memohon ampun dan berdoa, untuk kemudian terjebak lagi dalam dosa.. Tetapi Ia turunkan berkah dan karunia, bila boleh kuhiperbolakan keajaiban untuk kami dengan kelahiran putra kami yang ke tiga.

Adalah suatu pagi, yang sudah dinanti dan direncanakan berminggu minggu sebelumnya, setelah melalui penantian panjang rawat inap di rumah sakit, yang kunanti lahir. Tak ada yang istimewa dari proses kelahirannya, ia hanya berupa baby yang jauh lebih mungil dan keriput dari para kakaknya. Tetapi kami berdua sungguh menangis setelah melalui 38 minggu yang panjang, letih, dan mendebarkan.  Akhirnya ia lahir dan muncul di hadapan kami. Seperti si sulungku bilang– adik bayi datang dari surga..

Dan keajaiban yang lain, seiring dengan kelahiran sang baby, 2 bulan kemudian, penyakitku tak terdeteksi lagi. Entah untuk sementara atau selamanya. Bye APS, welcoming new born dan kami memberinya nama Moeshe— yang artinya berasal dari air. Untuk mengenang cairan heparin yang menghidupinya selama 38 minggu.

It is so true!! MAsih dalam sequelku kehamilan dengan APS, semoga tulisan ini bisa menyemangati sesama penderita seperti pernah menyemangatiku suatu sore.

Menjelang bulan kehamilan ketiga, aku yang merasa hari-hariku panjang dan membayangkan hal yang tidak-tidak kelak nanti.. Dan malas menghadapi pemeriksaan hematolog sore nanti, mulai memikirkan sebuah skenario terlarang di otakku yang hitam. Persoalannya adalah bagaimana mengutarakan pada T, suamiku nanti.

Keterikatan dan ketergantungan pada T untuk menyuntikku setiap 12 jam di perut membuatku merasa lemah. Dan diakui atau tidak menganggu ritme kerja T yang sebagian proyeknya di luar Jakarta. Ditambah aku tidak punya teman untuk berkeluh kesah. Sekalinya aku berkeluh kesah dengan keluargaku dan istrinya, mereka yang lebih tertarik pada habisnya biaya untuk pengobatan hanya berkomentar, ‘ untung loe ama lakiloe punya duit.. Jadi gampang dan semua bisa diberesin..’

Sore itu di ruang tunggu Sang dokter, setelah mengangguk kiri kanan pada sesama pasien yang telah hafal wajah karena lamanya penantian periksa dan observasi, aku duduk bersebelahan dengan suamiku. Dikepalaku mulai terancang kembali skenario tadi siang.

Gadis cantik semampai yang kukenal 6 bulan lalu, duduk di sampingku. Namanya Luna. Itu kutahu dari panggilan Suster perawat. Aku dan T pernah saling bertanya – tanya sakit apa ya dia? Masih muda dan cantik. T senang melihatnya. Bahkan akupun suka melihatnya. Wajahnya cukup cantik untuk masuk gadis sampul. Dan gayanya memang asyik untuk dilihat. Kadang dia membawa novel, majalah remaja, atau cuek makan risol mayones sampai 2-3 buah.. Sekitar jam 20, datang pria muda kantoran yang keren juga yang menemaninya dan nantinya  mengantarnya pulang ( yang ini bayanganku).  Kehadirannya jadi oase di ruang tunggu itu, yang kebanyakan pasiennya ibu hamil, manula  dan bahkan pasien di atas brankar.

‘Sudah nomor berapa mbak ?’

‘Kayaknya masih 20-an deh. Nomor berapa ? ‘tanyaku

‘Wah, baru 20? aku nomor 56.. Mbak berapa? Lagi hamil ya?’

’32. Iya 2 bulan lewat. Sakit apa?’

‘Aku katanya positif Lupus dan ACA. Makanya harus rutin berobat.’

‘Kok bisa?’ wah, pertanyaanku sungguh bodoh.

‘Nggak tahu ya mbak.. Cuman aku memang suka pingsan-pingsan dulu..’

‘Nggak ada yang nemenin? ‘

‘Nggak.  Tapi nanti sepupuku datang ngejemput kok…’

‘Umurmu berapa?’

’19….’

‘Aduh semoga cepat sembuh ya… ‘

‘Makasih Mbak.. Mbak juga ya.. semoga hamilnya lancar.. Harus disuntik khan ? Saya ambil darah dulu ya mbak..’

Si Luna cantik berlalu ke laboraturium. Aku memegang tangan suamiku, tanganku dingin. Suamiku hanya menepuk – nepuk tanganku. ‘Mas…..’ kataku lemas… T  mendesis memintaku diam.

Kami berdua akhirnya belajar mengenai syndrom ini. Hanya dari penjelasan dokter, internet dan buku-buku saja. Tetapi setidakmengertinya kamipun, kami tahu yang akan terjadi pada Luna cantik. Dia harus memiliki orang yang mau mengerti penyakitnya. Hidup dengan lupus sudah cukup sulit. ACA dan APS akan mempersulitnya nanti bila hamil dan sudah tua. Gaya hidup sehat sudah harus dijalaninya.. Dan penyakit-penyakitnya bisa kumat kapan saja.

Dan aku dengan skenario hitamku sudah akan menyerah bahkan dengan 1/2 penyakitnya si nona Luna itu. Rasanya harus ada revisi dari jalur-jalur di kepalaku.

Hamil dengan APS 2

Bulan pertama

Pada saat dinyatakan positif hamil, kami langsung bersiap memindahkan semua status pengobatanku ke RS PGI Cikini. Pertimbangannya adalah karena hematologku praktek di sana, kami pikir obgynnyapun sebaiknya dari RS yang sama agar mudah bekerja sama bila terjadi hal hal yang tak diinginkan. Kebetulan obgynku ini adalah salah satu sobat T, suamiku. Aku jadi terkenang, dari awal kehamilan anak pertamaku, T sudah menyarankan untuk konsultasi ke obgyn sobatnya saja. Tetapi aku menolak karena membayangkan akan diperiksa dalam oleh sobat suami, dan malamnya bisa saja kami makan malam bersama-sama mereka sambil mendengarkan live music…..Aneh ah rasanya.

Ternyata obgynku ini menyenangkan sekali dan pengetahuannya luas tentang kehamilan dengan penyakit ACA/APS/ trombophilia, karena sering menangani pasien dengan penyakit tersebut. Terbersit rasa sesal bila aku mau menuruti permintaan suami, mungkin kehamilan ke tiga tidak akan berakhir duka. Dan satu keuntunganku karena bersahabat dengan sang obgyn, kami bisa puas bertanya jawab dengannya mengenai penyakit ini, mengklarifikasi semua yang kubaca di internet, karena belum tentu semua pernyataan di internet itu ada benarnya.

Dari bulan pertama baik oleh obgyn dan hematolog, kami sudah diwanti-wanti akan apa yang akan kami alami bulan-bulan berikutnya. Mulai dari pola makan, pola pengobatan, kesabaran dll. Tetapi karena keinginan kami kuat untuk memberikan adik satu lagi untuk dua anak kami, kami menyanggupi.

Bulan kedua dan ketiga

Dosis harianku  dari Prof Karmel adalah 1x aspilet, 2×1 folic acid dan 2 x 1 cc suntikan heparin di perut, pagi dan sore dengan jarak 12 jam. Karena suntikkan ini akan berlangsung selama 9 bulan, T belajar menyuntikku agar kami tak kerepotan nanti. Plus tambahan vitamin kehamilan dari obgyn. Diet brokoli, kembang kol, kol boleh dihentikan sementara karena selama kehamilan tidak perlu minum warfarin. Tapi karena sudah terbiasa tidak mengkonsumsi sayuran tersebut, aku tidak berniat memakannya lagi.

Menjelang akhir bulan ketiga 1-2 jam sebelum jadual suntik, pusing dan mengantuk datang terus. Aku sudah khawatir karena ciri-ciri darah mengentalku adalah mengantuk dan pusing. Lalu naik menjadi 2-3 jam sebelum jadual suntik berikutnya.. Suatu sore aku tidak merasakan detak jantung dari si baby ( dr kandunganku mengajarkan mencari dan menghitung detak jantung baby manual setelah melihat kami berniat membeli alat doppler ).  Aku paksa T ke RS Cikini untuk memeriksakan si baby.  T sempat menganjurkan ke RSIA lain dekat rumah yang cukup bagus, tetapi aku menolak, karena malas menjelaskan riwayatku dan belum tentu ada hematolog ( range 3 km dari rumah kami ada 4 RSIA bagus : Hermina Bekasi, Hermina Taman Galaxi, Hermina Jatinegara dan RSIA Sam Marie; belum lagi RS lainnya Mitra Jatinegara, Global Awal Bros, Budi Lestari dan Harum).  Karena ternyata tidak semua obgyn cukup aware dengan ACA/APS.

Ternyata INRku jauh di bawah hanya 28 dari seharusnya 35-53, dan d-dimerku 1800 dari normal 500, dan aku harus dirawat sampai dengan kondisiku normal. 10 hari aku terpaksa dirawat.

Bulan keempat

Dari hasil observasi rawat inap, dosis suntik harianku bertambah menjadi 3 x suntikan heparin. Means aku harus disuntik per 8 jam sekali sampai dengan kelahiran. Setelah 3 hari aku merasa tidak kuat dengan kewajiban itu ditambah perut yang memar bekas suntik, kami sepakat mengganti suntikan dengan merk Lovenox, yang dosisnya 1 x suntik perhari tetapi cairannya berupa konsentrat tinggi. Hargalah yang menjadi pengaruh mengapa sebelumnya kami memilih heparin dahulu. Karena lovenox 4 x lebih mahal dari heparin biasa. Dosisnya adalah 0.6 cc 1 x sehari. Yang membuat kami agak bersemangat adalah kabar kelak si baby akan berjenis kelamin lelaki.  Semoga benar sesuai hasil usg..

Ternyata menurut dokter, masa krisis kehamilan memang pada bulan ketiga dan ketujuh. Pada bulan ketiga, darah normal biasanya mengental untuk meningkatkan antibodi tubuh, sedang pada bulan ketujuh, darah normal akan berangsur angsur mengencer dan menambah volume 2 l untuk persiapan kelahiran. Pada kasusku, pada bulan ketiga darahku yang memang kental menjadi bertambah kental, dan nantinya pada bulan ketujuh, darahku yang sengaja diencerkan harus dijaga agar tidak terlalu encer hingga membuat pendarahan atau malah akan semakin mengental.

Bulan kelima

Aku membiasakan diri makan 5 porsi sayur + buah sehari. Sulit sekali, ditambah dengan hormon kehamilan yg mau makan ‘bad food’ seperti steak, soto betawi, ice cream, kopi… Olahraga aku lewatkan selama 5 bulan ini. Badan rasanya lembam. Tapi aku tidak mau menambah resiko kehamilan. Bahkan pekerjaan di dapur atas anjuran dokter kuhindari. Pisau dapur nyaris 5 bulan tak kusentuh.

Akhir bulan kelima, mataku mulai sering mengantuk lagi. Tukang pijitku bilang tubuhku mulai menggumpal-gumpal lagi aliran darahnya. Aku mulai resah. Semenjak memakai lovenox, tubuhku bugar dan segar. Kantuk dan pusing tak pernah menyerang. Bahkan kerak kulit hitam yang sempat muncul di kehamilan bulan kedua dan ketiga menghilang. Aku merasa dosis suntikkanku harus naik.

Bulan keenam

Benar saja, dalam pemerikasaan dwi mingguan, Apttku 26,2  dari seharusnya 1.5 x kontrol 36,1  atau 54-60 dan d-dimerku 4300 dari seharusnya 500. Hematolog dan obgynku langsung bilang rawat. Aku mulai menghitung hari. Opname terakhir dari d-dimer 1800an menuju 500 saja butuh waktu 10 hari di rumah sakit, apalagi yang kini, mungkin bisa 20-30 hari…

Menurut dokter tidak ada diet spesifik untuk menurunkan d-dimer. Istirahat, tidak stress plus booster heparin dosis tinggi yang bisa menurunkannya. Aku memperbanyak sayuran dan buah, (berusaha ) mengurangi carbo dan memaksakan minum susu 0.5 l sehari, ditambah yoga dan senam hamil sendiri. Susah juga melakukannya dengan lilitan infus yang mengganggu. Ternyata dalam jangka waktu 11 hari d-dimerku 1100, dan apttku 60. RSpun mempersilakan pulang cukup rawat jalan 1 x seminggu ke obgyn dan hematolog.

Bulan ketujuh

Dalam jangka waktu 2 minggu apptku drop menjadi 23.2 dan d-dimer naik kembali ke 4100. Dosis suntikanpun berubah menjadi 2 x 0.4 Lovenox perhari bila tetap ingin rawat jalan. Karena dengan heparin setara dengan 4 x 1 cc perhari yang tidak mungkin kecuali di rawat.  Hari-hari rasanya panjang sekali.. Aspilet 2 x sehari, tambah folic acid 10000mg sehari plus vitamin dari obgyn membuat semakin panjang saja hari-hariku. Semi bedrestpun aku lakukan. Sedikit sekali kegiatan di luar rumah yang aku ikuti. Mata rasanya pedas dan mengantuk..Sekali seminggu saya dipijat selama 2 jam oleh tukang pijat langganan suami, untuk melancarkan peredaran darah.

Bulan kedelapan

Dengan perut semakin besar dan mengeras, suamipun semakin ngeri menyuntik saya. Di w-32, bb bayi saya sudah 2.8 kg. Cukup besar. Setiap kunjungan, saya selalu rewel dgn obgyn minta di operasi saja, dan jawabannya selalu sama… Sabar….Nafsu makanpun meningkat pesat, ditambah hanya makan dan tidur.. BB saya meningkat pesat. Di minggu ke 34, BB saya sudah 70kg. W-35, saya merasa pusing, tengkuk mengeras,   mata saya selalu pedas dan mengantuk. Setengah ketakutan, karena trauma mendengar sesama pasien keguguran di w ke 36nya, saya dan suami sepakat, kalau saya menunggu kelahiran bayi dengan tinggal di RS saja. Dan memang ddimer saya 6000. Oh… perjuangan hampir mencapai garis akhir… Ngeri rasanya bila tidak berhasil dengan baik. Akhirnya saya memilih opname. Sehari sebelum saya masuk RS, saya belanja kebutuhan bayi. Mulai dari boks bayi, baju bayi… hanya seadanya, karena saya kecapean, lalu langsung menuju RS. Setelah tinggal di RS selama seminggu, tiba-tiba suatu malam saya merasa kontraksi di perut. mulai teratur per sepuluh menit, lalu menghilang.. mungkin hanya braxton hicks. Tapi untuk mencegah yang tidak tidak, saya diberi obat pereda kontraksi.

Tiga hari menjelang jadual operasi, T suami saya membawa laptop dan buku buku nama bayi. Baru sekarang kami berani memberikan nama untuk bayi kami. Ternyata susah juga memberi nama untuk bayi istimewa kami. Dari pagi sampai malam, para bidan, pesuruh RS ikut sibuk membantu kami dengan nama nama bayi yang indah-indah.. Saya dan suami sampai terharu, dibantu oleh mereka mencarikan nama untuk bayi kami.

Akhirnya tepat di w-38, sesuai jadual operasi, pukul 08.00 pagi, lahir bayi laki laki kami, yang kami beri nama Moeshe Abimanju Najogi N*****o.  dengan berat 3.1 kg, tinggi 48 cm. Tiada pengharapan kami yang lebih tinggi selain dikau hidup dan hadir bersama kami di sini, nak..

*terima kasih untuk para dokter, perawat dan bidan, petugas kebersihan bangsal G, RS PGI Cikini yang telah merawat sehingga kisah ini berakhir dengan sempurna….